Jumat, 18 September 2015

Nilai Tambah Pertanian Nirlimbah



Sistem pertanian bersiklus biologi dan tanpa limbah diharapkan dapat menyejahterakan rakyat.Sistem pertanian terpadu tidak hanya memanfaatkan hasil, tetapi juga memanfaatkan seluruh limbah sisa hasil pertanian untuk usaha pertanian dan usaha nonpertanian. Sebagian besar rakyat Indonesia hidup di perdesaan dengan bertumpu pada sektor pertanian. Tak heran jika pemerintah menempatkan pertanian sebagai sektor utama pembangunan. Namun, kenyataannya, mayoritas petani masih hidup dalam keterbatasan karena marjin keuntungan hasil pertanian terlalu kecil dan usaha tani bersifat sektoral. Permasalahan sektor pertanian lainnya adalah sistem pertanian intensif monokultur dengan penggunaan pupuk kimia. Karena input bahan sintetis yang tinggi, bahan-bahan organik tanah terkuras sehingga tanah tak subur lagi. Belum lagi masalah resistensi organisme pengganggu tanaman, diversitas organisme menurun, dan jumlah musuh alami yang sedikit.“Risiko kegagalan usaha tani tinggi karena gangguan hama, penyakit, iklim, dan harga yang tidak menentu,” kata Koordinator Kegiatan Agro Techno Park (ATP) Palembang, Kementerian Riset dan Teknologi, Munandar, di Palembang, Selasa (16/9). Untuk mengatasi persoalan, lanjut dia, perlu sistem pertanian yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan. Bio Cyclo Farming/BCF (sistem pertanian bersiklus biologi dan tanpa limbah) diharapkan dapat menyejahterakan rakyat. Sistem pertanian terpadu ini memadukan unsur tanaman dan hewan bersinergi dalam siklus biologis.“Sistem pertanian ini juga tidak hanya memanfaatkan hasil, tetapi juga memanfaatkan seluruh limbah sisa hasil pertanian untuk usaha pertanian dan usaha nonpertanian,” jelas Munandar.Dia mengemukakan manfaat yang diperoleh dari pertanian terpadu adalah peningkatan diversifikasi penggunaan sumber daya produksi dari lahan. Hal tersebut juga meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja dan penggunaan komponen produksi. “Ini mengurangi risiko kegagalan usaha tani,” jelas Munandar.Keuntungan lain yang didapatkan dari pertanian terpadu adalah pengurangan kebergantungan masukan energi dari luar, seperti pupuk sintesis. Sistem ekologi pertanian lebih lestari dan melindungi lingkungan hidup dan berkelanjutan.
Transfer Teknologi
         ATP bisa dijadikan tempat untuk penerapan BCF lantaran berfungsi sebagai pelatihan dan transfer teknologi pertanian, peternakan, perikanan, dan pengolahan dari hasil kajian Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK), universitas pemerintah, dan universitas swasta ke masyarakat dengan skala ekonomi. Kemristek mengoordinasikan tiga ATP di Palembang, yaitu ATP di Indralaya seluas 100 hektare (ha), ATP di Ogan Ilir seluas 870 ha, dan ATP di Muara Enim seluas 30 ha. “Tujuan ATP adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang terampil dan mandiri di bidang agroteknologi dan agribisnis,” paparnya.Teknologi yang akan diberikan ATP ke rakyat di antaranya teknologi budidaya tanaman dan pembenihan, teknologi pascapanen dan pengolahan hasil, teknologi peternakan unggas dan ruminansia, serta teknologi budaya perikanan.Transfer teknologi pertanian terpadu yang dilakukan ATP terdiri dari pelatihan, pemagangan, dan diseminasi teknologi bagi pertanian, peternakan, dan perikanan. Bidang pertanian melakukan budidaya jagung, penangkaran benih kedelai, sorgum, dan hijauan makanan ternak.“Teknologi yang pernah diaplikasikan pupuk berimbang, pupuk organik, pupuk hayati azora dari Batan, pupuk mikoriza dari BPPT dan LIPI, dan populasi rapat,” urai Asisten Deputi (Asdep) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Pemerintah Kemristek, Prakoso, di Palembang, Selasa (16/9).Untuk peternakan dilaksanakan budi daya sapi, kambing, dan ayam petelur. Teknologi yang digunakan adalah formulasi pakan dari batan, inseminasi buatan (IB) sexing dari LIPI. “Populasi ternak yang dikembangkan adalah 110 ekor sapi, 5 ekor kambing, dan 1.000 ekor ayam petelur,” jelasnya.Pada sektor perikanan dikembangkan budi daya udang galah, ikan nila, patin, emas, dan bawal. Teknologi yang diaplikasikan adalah sex reversal dengan methit testosteronorganik dari Batan, apartemen udang galah dari LIPI, dan Nila Gesit dari BPPT. “Namun, sejak 2014 tidak ada kegiatan pada bidang perikanan karena minimnya sumberdaya,” tuturnya. Ihwal anggaran ATP, ujar Koodinator Kerja Sama dan Transfer Teknologi ATP Kemristek, Firdaus Sulaeman, sebesar 1,2 miliar rupiah pada 2014. Angka ini lebih kecil dibandingkan 2007-2008 sebesar 7 miliar rupiah. “Dari 1,2 miliar rupiah sebesar 50 persen membayar gaji pegawai sebesar 800 juta rupiah,” ucapnya.
Cari Lokasi
          Lebih jauh, Kemristek telah menyusun Rencana Strategis (Renstra) ATP yang terdiri dari tujuh kegiatan mulai 2015 hingga 2019. Empat kegiatan akan berlangsung selama lima tahun, yaitu penerapan sistem pertanian terpadu, transfer teknologi pertanian, laboratorium lapangan, dan pengembangan agribisnis pertanian dan peternakan.“Pembuatan demplot pertanian terpadu skala 2 hektare oleh petani akan dilakukan pada 2016 hingga 2017 dan 2018 hingga 2019,” jelas Prakoso. Adapun revitalisasi sarana dan prasarana ATP dilakukan mulai 2015 sampai 2017. Untuk kerjasama riset pertanian terpadu dengan lembaga litbang mulai 2016 sampai 2019.Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Erizal Sodikin, menambahkan ATP harus dikelola secara konsisten dan berkelanjutan. Langkah itu dapat memberikan hasil maksimal. “ATP dapat dikelola sebagai unit bisnis dengan pemberian konsesi sebagai usaha pertanian, peternakan, dan perikanan secara komersial, sehingga operasional dapat dibiayai usaha tersebut,” tegasnya.Namun, selama ini, ATP dipandang sebagai kegiatan menghabiskan uang. Hal itu membuat kegiatan bisnis merugi. “Pendapatan dari usaha pertanian, peternakan, dan perikanan hanya bisa menutupi 30-50 persen biaya operasionalnya,” jelasnya.Prakoso meneruskan pembukaan ATP tidak dapat di Pulau Jawa. Pasalnya, areal seluas 100 ha sulit didapatkannya. “Kami ingin ATP ada di beberapa lokasi ke depan bekerjasama dengan pemilik lahan atau pemerintah,” tutupnya. mochamad ade maulidin.

 Sumber : http://www.koran-jakarta.com
 Copied by : Tika Drastiana (13065)

1 komentar:

  1. Nilai Penyuluhan
    1. Sumber/Ide
    Bio Cyclo Farming, yaitu system pertanian terpadu yang bersiklus biologi dan tanpa limbah
    2. Sasaran
    Sasaran langsung : Petani di Indonesia, terutama dalam hal pemanfaatan hasil pertanian dan limbah hasil pertanian.
    Sasaran tidak langsung : Pemerintah, selaku pengambil kebijakan.
    3. Manfaat
    Manfaat yang akan diperoleh dari pengaplikasian Bio Cyclo Farming terhadap pertanian yaitu peningkatan diversifikasi penggunaan sumber daya produksi dari lahan. Selain itu, mampu meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja dan penggunaan komponen produksi, serta mengurangi ketergantungan masukan energy dari luar, seperti pupuk sintesis, karena system BCF tersebut tidak hanya memanfaatkan hasil tetapi juga memanfaatkan seluruh limbah sisa hasil pertanian.
    4. Nilai Pendidikan
    Bio Cyclo Farming merupakan system pertanian terpadu yang masih baru, sehingga diperlukan suatu pengembangan dalam memanfaatkan limbah hasil pertanian. Selain itu, ATP juga diperlukan adanya sosialisasi lanjutan.
    Nilai Berita
    1. Proximity
    Sistem BCF yang diperkenalkan oleh ATP merupakan suatu system yang sangat dekat dengan petani. Hal ini dikarenakan system BCF tersebut berkaitan dengan pertanian secara langsung, dimana terdapat pemanfaatan hasil pertanian serta pemanfaatan limbah hasil pertanian juga.
    2. Importance
    Informasi mengenai inovasi dari system BCF tersebut berkaitan dengan petani.
    3. Policy
    Didalam berita tersebut, dikemukakan bahwa ATP (Agro Tecno Park) sedikit ditentang oleh pemerintah karena dianggap hanya menghabiskan uang. Namun, ATP dapat dijadikan sebagai tempat untuk menerapkan system BCF tersebut.
    4. Consequence
    Konsekuensi atau akibat yang diperoleh jika system BCF diterapkan, yaitu mampu memanfaatkan limbah-limbah hasil pertanian, sehingga dapat meminimalkan adanya pembuangan limbah berlebih. Selain itu, dengan akan dilaksanakannya kegiatan ATP, maka ATP tersebut harus mampu dikelola secara konsisten dan berkelanjutan, supaya tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang menghabiskan uang.
    5. Conflict
    Kesulitan dalam mencari lokasi untuk mengaplikasikan BCF, terutama mencari lokasi yang cocok untuk didirikan ATP. Pasalnya, selama ini ATP dipandang sebagai suatu kegiatan menghabiskan uang.

    Siti Rohmah//13067//Kel. 3//A2.1

    BalasHapus