Kamis, 17 September 2015

Presiden Jokowi Panen Raya Jagung Di Tegakan Hutan Jati - 07/03/2015


Pushumas Kemenhut, Blora : Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya dan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman melakukan Panen Raya Jagung hasil sistem pertanian terpadu (Integrated Farming System), Sabtu (7/3) di petak 18A Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Ngliron Blora Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ngliron, KPH Randublatung Blora Divisi regional Perum Perhutani Jawa Tengah. Panen raya juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo; Rektor UGM, Dwikorita; Dirut Perum Pehutani, Mustoha Iskandar serta para pejabat terkait.

Panen raya jagung hasil penerapan metode sistem pertanian terpadu ini diperkirakan dapat mencapai 7,6 ton/ha/ sekali panen. Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa hasil panenan itu cukup besar dan jika dikembangkan pasti sangat mensejahterakan masyarakat karena apabila jagung tersebut dijual dengan harga per kilo Rp 2.800, maka petani bisa dapat puluhan juta rupiah setiap kali panen. Namun di Perhutani, setiap hektar digarap 3-4 petani, setelah dibagi rata, per kepala keluarga mendapatkan penghasilan sekitar Rp 1,3 juta per bulan, metode sistem pertanian terpadu yang mengkombinasikan penanaman tanaman kehutanan dan pertanian dalam satu areal (tumpangsari) ia yakini akan membantu mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan yang terbengkalai. Presiden juga mengatakan untuk mengatasi keterbatasan lahan yang digarap petani, ia akan segera merealisaisikan pembagian lahan satu juta hektar untuk pertanian dan perkebunan yang bisa saja berasal dari lahan di kawasan hutan.

Selain melakukan panen raya jagung, Presiden Jokowi juga meninjau Demonstration Plot (Demplot) uji coba penanaman padi dibawah tegakan pohon jati dengan beberapa variasi jarak tanam pohon jati. Demplot ini terletak di petak 27 A-1 RPH Ngliron yang memiliki luas 8, 3 ha yang merupakan pangkuan dari LMDH Sido Dadi Mulyo. Padi yang ditanam adalah jenis Situbagenit dan Inpago 5 yang ditanam dibawah tegakan pohon jati dengan variasi jarak tanam 3x3 meter, 6x2 meter, dan 8x2 meter.

Upaya menguji cobakan sistem pertanian terpadu antara Perhutani bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada dan Pemprov Jawa Tengah adalah upaya penerapan multidisiplin ilmu dalam optimlisasi pemanfaatan lahan dengan melibatkan peran para pihak dari pemerintah pusat sampai daerah, perguruan tinggi, swasta dan masyarakat dalam mendukung kelestarian hutan, kedaulatan pangan nasional serta kejahteraan masyarakat.











Keterangan Foto

Foto 1,2,3 : Presiden RI, Jokowi, Menteri LH dan Kehutanan, Siti Nurbaya serta para pejabat terkait yang hadir turut serta melakukan panen raya jagung di petak 18A Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Ngliron Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ngliron, KPH Randublatung Divre Jawa Tengah. 

Foto 4 : Presiden Jokowi memberikan keterangan pers terkait Panen Raya Jagung hasil sistem pertanian terpadu (Integrated Farming System) Tumpang sari antara tanaman Jagung dan pohon Jati di petak 18A Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Ngliron Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ngliron, KPH Randublatung Divre Jawa Tengah.

Foto 5 : Presiden Jokowi didampingi para Menteri dan pejabat terkait mendengarkan paparan dari peneliti UGM terkait Demonstration Plot (Demplot) uji coba penanaman padi dibawah tegakan pohon jati dengan beberapa variasi jarak tanam pohon jati di petak 27 A-1 RPH Ngliron.

Foto 6,7 : Areal pertanian terpadu (Integrated Farming System) Tumpang sari antara tanaman Jagung dan pohon Jati di petak 18A Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Ngliron Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ngliron, KPH Randublatung Divre Jawa Tengah yang siap di panen oleh Presiden Jokowi dan para pejabat terkait.

Foto 8 dan 9: Tampilan lanskap Demonstration Plot (Demplot) uji coba penanaman padi dibawah tegakan pohon jati dengan beberapa variasi jarak tanam pohon jati di petak 27 A-1 RPH Ngliron.


Uploaded by : Pushumas Kemenhut

Copied by : Muhammad Iqbal Amri (13339) kelompok 4 golongan A2.1

1 komentar:

  1. Nilai-nilai berita yang ada pada artikel tersebut adalah :
    1. Timelines
    Berita tersebut termasuk baru karena pelaksanaan acara tersebut dilakukan pada tanggal 07 Maret 2015.
    2. Proximity
    Tulisan tersebut sangat dekat dengan petani karena pelaksanaan panen raya jagung yang menerapkan metode sistem pertanian terpadu. Sebab petani terlibat langsung.
    3. Importance
    Berita tersebut berkaitan dengan petani yang memanfaatkan pekarangan hutan di petak 18A Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Ngliron Blora Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ngliron, KPH Randublatung Blora Divisi regional Perum Perhutani Jawa Tengah. Berita ini penting karena hutan bisa dimanfaatkan oleh petani.
    4. Policy
    Tulisan selaras dengan kebijakan pemerintah dalam penerapan sistem pertanian terpadu yang melibatkan berbagai bidang seperti pertanian, kehutanan, peternakan dan perikanan. Hasil panen raya jagung itu melibatkan sektor pertanian dan kehutanan.
    5. Prominence
    Berita berisi tentang panen raya jagung yang dihadiri orang penting/terkenal yaitu oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo; Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya; Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman; Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo; dan Rektor UGM, Dwikorita.
    6. Consequence
    Adanya hasil yang baik dari penerapan sistem pertanian terpadu memberikan kebahagiaan atau kesenangan tersendiri oleh petani. Seperti hasil panen raya jagung di berita itu bahwa jagung yang dihasilkan mencapai 7,6 ton/hektar/sekali panen. Dan rata-rata penghasilan petani berkisar Rp 1.300.000,00.
    7. Conflict
    Namun ada sedikit masalah yaitu keterbatasan lahan yang digarap petani.
    8. Development
    Tulisan berisi tentang hasil panen jagung petani yang mencapai 7,6 ton/hektar/sekali panen. Sehingga berita tersebut menyampaikan keberhasilan pembangunan atau upaya metode sistem pertanian terpadu.
    9. Human Interest
    Karena berita ini dapat membuka pikiran atau kesadaran petani dan masyarakat bahwa untuk menjadikan Indonesia yang mandiri akan bahan pokok makanan dapat terwujud, salah satunya dengan cara menerapkan sistem pertanian terpadu.

    Ratna Dwi Indriasari (13077)
    Jumat (18 September 2015)

    BalasHapus